filsafat umum (aliran pemikiran)

Aliran Pemikiran,filsafat umumRasionalisme, Empirisme dan Kritisme.

I. PENDAHULUAN
Secara historis zaman modern dimulai sejak adanya zaman pertengahan selama 2 abad ( abad ke-14 dan ke-15 ) ditandai dengan gerakan renaissance yang bermula di Italia ( pertengahan abad ke-14 ) yang tujuannya merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup kristiani dengan mengaitkan filsafat Yunani dengan ajaran agama Kristen.
Pada abad ini banyak orang yang berupaya memberi tempat pada akal yang mandiri. Akal diberi kepercayaan yang besar karena adanya suatu keyakinan bahwa akal pasti dapat menerangkan segala macam persoalan yang diperlukan juga pemecahannya.1
Asumsi yang digunakan semakin besar kekuasaan akal akan dapat diharapkan lahir “dunia baru” dimana penghuninya ( manusia-manusianya ) dapat merasakan puas atas dasar kepemimpinan akal yang sehat.
Aliran yang menjadi pendahuluan ajaran filsafat ini didasarkan kepada suatu kesadaran atas yang individual dan yang kongkrit, yang dimulai William Ockham ( 1295-1349 ) yang mencetuskan via moderna ( jalan modern ) dan via antiqua (jalan kuno). Akibatnya manusia didewa-dewakan dan manusia tidak lagi memusatkan pada Tuhan dan Surga.2 Yang menjadikan ilmu pengetahuan berkembang pesat. Disisi lain nilai filsafat merosot karena dianggap ketinggalan zaman.
Dalam era filsafat modern. Muncullah berbagai aliran pemikiran Rasionalisme, empirisme dan kritisme.

II. PEMBAHASAN
A. Rasionalisme
Setelah pemikiran renaissance yaitu tercapainya sebuah kedewasaan pemiki-ran, maka terdapat keseragaman mengenai sumber pengetahuan, yaitu akal (rasio) dan pengalaman ( empiri ). Karena orang punya kecenderungan untuk membentuk aliran salah satu diantaranya. Maka antara rasio dan empiri akan saling bertentangan.
Rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes ( 1596-1650 ) yang disebut sebagai Bapak filsafat modern. Ia menyatakan bahwa ilmu pengetahuan harus satu tanpa ada bandingannya, harus disusun oleh satu orang, sebagai bangunan yang berdiri sendiri menurut satu metode yang umum, yang harus dipandang sebagai hal yang benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah ( clear and destine tively ). Ilmu pengetahuan harus mengikuti ilmu pasti. Karena ilmu pasti dapat dijadikan model cara mengenal secara dinamis.
Rene Descartes berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang terpercaya adalah akal. Hanya pengetahuan yang bersumber dari akallah yang dapat diterima oleh semua ilmu pengetahuan ilmiah. Karena dengan akal akan diperoleh kebenaran.
Latar belakang munculnya rasionalisme adalah keinginan untuk membebas-kan diri dari segala pemikiran tradisional (skolastik) yang ternyata tidak mampu menangani hasil-hasil ilmu pengetahuan yang dihadapi. Apa yang ditanam Aristoteles dalam pemikiran saat itu juga masih dipengaruhi oleh khayalan-khayalan.
Deseartes menginginkan cara baru dalam berfikir. Maka diperlukan titik tolak yang pasti yang dapat ditemukan dalam keragu-raguan. Cogitu ergo sum (saya berfikir maka saya ada). Jelasnya bertolak dari keraguan untuk mendapatkan kepastian.3

B. Empirisme
Timbulnya karena adanya kemajuan ilmu pengetahuan yang dapat dirasakan manfaatnya. Mengakibatkan pandangan orang terhadap filsafat mulai merosot. Hal ini disebabkan karena filsafat dianggap tak berguna lagi bagi kehidupan. Tokoh empirisme beranggapan bahwa pengetahuan yang bermanfaat, pasti dan benar hanya diperoleh lewat indera (empiri). Empirislah satu-satunya sumber pengetahuan.
a. Thomas Hobbes ( 1588-1679 )
Ia seorang ahli ahli pikir Inggris lahir di Malmesbury. Dalam tulisannya ia telah menyusun suatu sistem pemikiran yang berpangkal pada dasar-dasar empiris. Disamping juga menerima metode dalam ilmu alam yang matematis. Pendapatnya, bahwa ilmu filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang sifatnya umum. Karena filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan tentang akibat-akibat atau tentang gejala-gejala yang diperoleh dari sebabnya. Sasaran filsafat adalah fakta, yaitu untuk mencari sebab-sebabnya. Segala yang ada ditentukan oleh sebab, sedangkan prosesnya sesuai dengan hukum ilmu pasti/ ilmu alam.
Namanya sangat terkenal karena teorinya tentang kontrak sosial, yaitu manusia mempunyai kecenderungan untuk mempertahankan diri. Apabila setiap orang mempunyai kecenderungan demikian, maka pertentangan, pertengkaran atau perang total tak dapat dihindari. Perang akan membuat kehidupan menjadi sengsara dan buruk. Bagaiman manusia dapat menghindarinya. Maka diperlukan akal sehat, agar setiap orang mau melepaskan haknya untuk berbuat sekehendaknya sendiri. Untuk itu mereka harus bersatu membuat perjanjian untuk mentaati/tunduk terhadap penguasa. Orang-orang yang dipersatukan disebut commonwealth.
b. John Locke ( 1 32-1704 )
Ia dilahirkan di Wrington, dekat Bristol, Inggris. Disamping sebagai seorang ahli hukum, juga menyukai filsafat dan teologi, mendalami ilmu kedokteran dan penelitian kimia. Dalam mencapai kebenaran, sampai seberapa jauh (bagaimana) manusia memakai kemampuannya.

Dalam penelitiannya ia memakai istilah sensation dan reflection. Sensation adalah suatu yang dapat berhubungan dengan dunia luar, tetapi manusia tidak dapat mengerti dan meraihnya. Sedangkan reflection adalah pengenalan intuitif yang memberikan pengetahuan kepada manusia, yang sifatnya lebih baik dari- pada sensation. Tiap-tiap pengetahuan yang diperoleh manusia terdiri dari sensation dan reflection. Walaupun demikian, manusia harus mendahulukan sensation. Mengapa demikian? Karena jiwa manusia disaat dilahirkan putih bersih (tabula rasa) yaitu jiwa itu kosong bagaikan kertas putih yang belum tertulisi. Tidak ada sesuatu dalam jiwa yang dibawa sejak lahir, melainkan pengalamanlah yang membentuk jiwa seseorang.4

C. Kritisme
Aliran ini muncul abad ke-18. suatu zaman baru dimana seorang ahli pikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasionalisme dan empirisme. Zaman baru ini disebut zaman pencerahan (Aufklarung). zaman pencerahan ini muncul dimana manusia lahir dalam keadaan belum dewasa (dalam pemikiran filsafatnya). Akan tetapi setelah Kant mengadakan penyelidikan (kritik) terhadap peran pengetahuan akal. Setelah itu, manusia terasa bebas dari otoritas yang datangnya dari luar manusia, demikian kemajuan/peradapan manusia.
Sebagai latar belakangnya, manusia melihat adanya kemajuan ilmu penge-tahuan (ilmu pasti, biologi, filsafat dan sejarah) telah mencapai hasil yang menggembirakan. Disisi lain, jalannya filsafat tersendat-sendat. Untuk itu diperlukan upaya agar filsafat dapat berkembang sejajar dengan ilmu pengetahuan alam. Issac Newton (1642-1727) memberikan dasar-dasar berfikir dengan induksi, yaitu pemikiran yang bertitik tolak pada gejala-gejala dan mengembalikan kepada dasar-dasar yang sifatnya umum. Untuk itu dibutuhkan analisis.
            Gerakan ini dimulai di Inggris, kemudian Perancis dan selanjutnya menyebar keseluruh Eropa, terutama ke Jerman. Di Jerman pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme semakin berlanjut. Masing-masing berebut otonomi. Kemudian timbul masalah, siapa yang sebenarnya dikatakan sebagai sumber pengetahuan? Apakah pengetahuan yang benar itu lewat rasio atau empiri?
Seorang ahli pikir Jerman Immanuel Kant (1724-1804) mencoba menye- lesaikan persoalan di atas. Pada awalnya Kant mengikuti rasionalisme, tetapi kemudian terpengaruh oleh empirisme (Hume). Walaupun demikian Kant, tidak begitu mudah menerimanya, karena ia mengetahui bahwa empirisme terkandung skeptisisme. Untuk itu ia tetap mengakui kebenaran ilmu, dengan akal manusia akan dapat mencapai kebenaran.
Akhirnya Kant mengakui peranan akal dan keharusan empiri, kemudian dicobanya mengadakan sintesis. Walaupun semua pengetahuan bersumber pada akal (rasionalisme), tetapi adanya pengertian timbul dari benda (empirisme). Ibarat burung terbang harus mempunyai sayap (rasio) dan udara (empiri).
Jadi, metode berpikirnya disebut metode kritis. Walaupun ia mendasarkan diri pada nilai yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak mengingkari adanya persoalan-persoalan yang melampaui akal. Sehingga akal mengenal batas-batasnya. Karena itu aspek irrasional dari kehidupan dapat diterima kenyataannya.5


III. KESIMPULAN
Dalam filsafat modern terdapat 3 aliran yaitu :
- Rasionalisme ( dipelopori Descartes ) berpendapat : sumber pengetahuan yang dapat dipercaya hanyalah akal, karena akal memenuhi syarat yang dituntut oleh semua ilmu pengetahuan ilmiah. Beliau juga menemukan cara berpikir baru yang dikenal dengan metode keragu-raguan untuk memperleh kepastian )
- Emprisme
Thomas Hobbes pokok pemikirannya segala yang ada ditentukan oleh sebab, sedangkan prosesnya sesuai dengan ilmu pasti / alam.
Shon Lock pokok pemikirannya manusia harus mendahulukan sensation. Karena jiwa manusia saat dilahirkan putih bersih ( tabularasa ). Tak ada sesuatu dalam jiwa yang dibawa sejak lahir, melainkan pengalamanlah yang membentuk jiwa seseorang.
- Kritisme ( dipelopori oleh Immnuel Kant ) akal dan empiri sama-sama mempunyai peran penting dalam melakukan sintesa. Karena semua pengetahuan bersumber pada akal ( rasionalisme ) dan pengertian timbul dari benda ( empirisme )



1Pringgo digdo, Ensiklopedi Umum, Kanisius, Yogyakarta, 1993, hal.42
2Poedja wijatna. Pembimbing kearah filsafat, Renika cipta, Jakarta, 1990, hal.98
3Ahmad Tafsir, Filsafat umum, PT Remaja Rosla Karya, 2005, hal.129
4Endang Daruni, Filsafat-filsafat dunia dalam gambar, Karya kencana, Yogyakarta, 1992, hal.156
5Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, PT Raja grafindo Pusada, Jakarta, 1997, Hal.114-115